Pengamat Politik Minta Partai Patuhi AD/ART Jelang Musda Golkar Kaltim

oleh -
Pengamat Politik asal Universitas Mulawarman, Sarosa Hamongpranoto

PUBLIKKALTIM.COM, SAMARINDA – Pada Akhir Maret, Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kaltim, ditargetkan agar segera terselenggara .

Nama-nama figur dari kader hingga non kader bermunculan. Mereka dianggap berpeluang mengisi pucuk pimpinan partai berlambang beringin ini.

banner Pemkot

Dari kalangan kader ada nama Makmur HAPK, Ketua DPRD Kaltim dan Rudi Masud, Anggota DPR RI. Mereka digadang akan bersaing sengit membereputkan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Rita Widyasari. Dari non partai, ada Isran Noor, Gubernur Kaltim yang juga sama kuatnya mengisi kursi Ketua DPD Golkar Kaltim.

Kemunculan nama Isran Noor inipun menimbulkan pertanyaan, sebab Isran yang diketahui bukan kader partai, memiliki potensi memenangkan Musda.

Meski demikian, dari 10 syarat calon ketua yang ditetapkan oleh partai. Isran sedikitnya terbentur dua syarat, yakni; secara terus menerus menjadi anggota Partai Golkar minimal selama 5 tahun dan tidak pernah menjadi anggota partai lain, dan sebagai kader sekurang-kurangnya lima tahun.

Fenomena nama Isran di Musda Golkar Kaltim ini pun mendapat tanggapan oleh Pengamat Politik asal Universitas Mulawarman, Sarosa Hamongpranoto.

Sarosa menyebut, Isran sebenarnya memiliki potensi untuk menang di Musda Golkar. Sebab sepak terjangnya di dunia perpolitikan Bumi Etam cukup piawai. Terbukti saat ini menduduki kursi Gubernur Kaltim. Namun, Isran yang diketahui bukan kader Golkar bisa menjadi batu sandungan di Musda Golkar.

“Peluang itu sebenarnya sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh partai. Supaya tidak menimbulkan kesan yang tidak baik, mungkin ya sesuai aja dengan AD/ART partai,” kata Sarosa.

BERITA LAINNYA :  Pupuk Kaltim Capai 28.271.679 Jam Kerja Aman Tanpa Kecelakaan

Akademisi Universitas Mulawarman Samarinda ini juga menyebut, sebagai partai besar di Kaltim, Golkar seharusnya patuh terhadap AD/ART. Karena sikap Golkar tersebut akan menjadi contoh bagi partai-partai yang lain.

“Karena kan Golkar partai besar, maka Golkar harus memberikan contoh kepada partai yang lain, bahwa AD/ART sangat penting dalam organisasi. Jangan menyimpang dari itu,” sambungnya.

Apakah Isran kehilangan kesempatan untuk menjadi Ketua Golkar Kaltim? Sarosa menyebut, kesempatan mantan Bupati Kutim ini terpilih di Musda Golkar tergantung pemilik suara, dan tata cara pelaksanaan Musda nanti.

Namun, Sarona kembali menegaskan, pencalonan ketua memiliki syarat yang harus dipenuhi. Sebab, bila tidak sesuai ketentuan, akan berpotensi menimbulkan komplik internal partai.

“Taati saja AD/ART partai, karena bila memaksa melonggarkan aturan pencalonan bisa menimbulkan kekecewaan dari kader yang lain. Dampaknya berpotensi terjadi gugatan-gugatan dari kader yang tidak terima, seperti yang terjadi di Golkar pada Musda sebelumnya,” pungkasnya. (*)