PUBLIKKALTIM.COM – Perkembangan kasus Covid-19 Indonesia kian terkendali.
Angka terkonfirmasi yang sempat menyentuh level tertinggi hingga 56 ribu pada pertengahan tahun ini, perlahan turun.
Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Minggu (5/12/2021), tercatat hanya ada tambahan kasus sebanyak 196 kasus baru.
Tambahan kasus tersebut menjadi yang terendah dalam satu pekan terakhir.
Teranyar, kabar baik lagi datang soal penanganan Covid-19 di dunia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat (AS) memberikan izin penggunaan terhadap pil antivirus buatan raksasa farmasi Merck untuk mengobati Covid-19, Kamis (23/12/2021).
Obat itu bernama Molnupiravir.
Molnupiravir ini diizinkan untuk mengobati gejala ringan hingga sedang infeksi.
Obat itu juga bisa digunakan bagi individu yang memiliki resiko terpapar parah Covid-19.
“Molnupiravir diizinkan untuk pengobatan penyakit coronavirus ringan hingga sedang pada orang dewasa dengan hasil positif virus SARS-CoV-2 langsung dan yang berisiko tinggi untuk berkembang menjadi Covid-19 yang parah, termasuk rawat inap atau kematian,” tulis FDA AS dalam pernyataannya dikutip dari CNN International.
Wakil presiden senior urusan medis global Merck, Eliav Barr, menyambut baik hal itu.
Eliav Barr mengatakan bahwa ia optimis perawatan ini juga bisa berhasil melawan penyebaran Varian Omicron yang memiliki banyak mutasi.
“Kami sangat optimis bahwa obat tersebut akan terus efektif melawan Omicron, dan kami sedang mempelajarinya sekarang,” ujarnya.
Dengan adanya persetujuan ini, Molnupiravir menjadi obat oral kedua yang disetujui FDA setelah Paxlovid yang disetujui sehari sebelumnya.
Paxlovid sendiri merupakan obat buatan Pfizer yang diklaim dapat digunakan pasien dari umur 12 ke atas.
“(Konsumsi) pil harus dimulai sesegera mungkin setelah diagnosis Covid-19 dan dalam waktu lima hari setelah timbulnya gejala,” kata pernyataan FDA.
Peluncuran obat ini sendiri terjadi di saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO ) mengumumkan kekhawatirannya terkait kesenjangan vaksinasi global.
Badan PBB itu mengkritik negara-negara yang telah memulai pemberian dosis vaksin penguat (booster) sementara banyak negara yang kesulitan mengakses vaksin.
“Program penguat cenderung memperpanjang pandemi, daripada mengakhirinya, dengan mengalihkan pasokan ke negara-negara yang sudah memiliki cakupan vaksinasi tingkat tinggi, memberi virus lebih banyak kesempatan untuk menyebar dan bermutasi,” kata Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip CNBC International.
Lebih lanjut, WHO juga mengungkapkan bahwa alat-alat yang digunakan untuk penanggulangan Covid seperti vaksin dan obat-obatan ini juga menjadi sinyal bahwa dunia semakin dekat dengan akhir pandemi.
Lembaga itu sendiri menargetkan tahun 2022 mendatang pandemi sudah dapat diakhiri.
“2022 harus menjadi tahun di mana kita mengakhiri pandemi,” pungkas Tedros. (*)