Bahas Perlindungan Anak, Dewan Samarinda: Tak Bisa Orang Tua Pekerjakan Anak di Bawah Umur

oleh -
oleh
Ilustrasi Anak Jalanan/telisik.id

PUBLIKKALTIM.COM – Anak-anak memiliki rasa keingintahuannya yang tinggi.

Oleh karena itu, mendidik anak sejak dini dapat membantu mereka mengenal dunia dengan lebih baik.

Hal ini juga bisa mendukung anak untuk mempersiapkan pendidikan formal di sekolah dasar hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun realitanya tidak sedikit anak-anak di Indonesia harus memilih untuk mengambil alih tugas orang dewasa.

Mereka terpaksa mencari rizki demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bahkan tidak jarang cara-cara yang dipilih adalah dengan menjadi anak jalanan entah itu dengan mengamen atau menjajakan jualan.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sani bin Husein memberi penjelasan.

Menurutnya, fenomena anak jalanan itu dipengaruhi oleh tiga faktor.

Di antara yang mempengaruhinya adalah orang tua, lingkungan, serta pemerintah dalam hal ini pemerintah kota.

“Tidak bisa orang tua mempekerjakan anak di bawah umur itu zalim lah bahasanya dia harus belajar dia harus menerima kasih sayang.” ujar Sani sapaan akrabnya.

“Yang kedua adalah kesalahan lingkungan mungkin dia lihat lingkungan bekerja, seharusnya memberikan efek positif, efek ingin belajar,” lanjutnya.

BERITA LAINNYA :  Respon Cepat Waspada Covid-19, Wali Kota Bontang Gelar Penyemprotan Disinfektan ke Sekolah dan Masjid

Kemudian menurutnya, perlu peran aktif pemerintah dalam hal ini pemerintah kota.

“Yang ketiga pemerintah, karena pemerintah itu tidak mengatur regulasi tentang itu,” ungkapnya.

“Makanya di Samarinda dibuat peraturan-peraturan daerah tentang salah satunya dilarang mempekerjakan anak di bawah umur,” terangnya.

Menurut Sani ada tiga prinsip penting mengenai perlindungan anak, yakni anak itu harus dilindungi hak-haknya,
anak harus dilindungi dari kekerasan dan anak itu dilindungi masa depannya

Hal yang bertentangan dengan tiga prinsip itu menurutnya harus dilawan.

“Semua hal yang di luar dari itu harus kita lawan, harus kita kondisikan,” ucapnya.

Dengan demikian, menurutnya, Samarinda sebagai kota pusat peradaban seperti yang dicita-citakan akan terwujud.

“Jadi sebenarnya tiga perlindungan tadi itu yang penting kita terapkan kalau kita mau jadi kota pusat peradaban,” pungkasnya. (Advertorial)

1.123 Tayangan