PUBLIKKALTIM.COM – Kenaikan harga sejumlah bahan pokok yang dirasakan masyarakat Kota Samarinda dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak terjadi secara langsung akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Namun, kondisi tersebut disebut sebagai efek berantai yang bermula dari meningkatnya biaya energi dan distribusi logistik.
Hal itu diungkapkan langsung oleh, anggota komisi II DPRD Kota Samarinda, Joha Fajal.
Dirinya mengungkapkan pelemahan rupiah lebih berpengaruh terhadap sektor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), yang sebagian besar masih bergantung pada mekanisme perdagangan internasional menggunakan dolar AS.
“Secara sederhana, pengaruh terbesar dari pelemahan rupiah berada pada sektor energi. Ketika biaya BBM naik, maka biaya distribusi barang juga akan ikut meningkat dan akhirnya memengaruhi harga kebutuhan pokok di pasaran,” Ungkap Joha sapaan karibnya, Jum’at (12/6/2026).
Lebih lanjut, Joha menyebutkan sektor logistik memiliki peran penting dalam menentukan harga komoditas pangan yang sampai ke tangan konsumen.
Apalagi sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat Samarinda masih dipasok dari luar Kalimantan Timur (Kaltim), bahkan dari luar pulau.
“Kondisi ini beda jika kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari hasil produksi lokal. Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, biaya pengangkutan dapat ditekan sehingga harga barang cenderung lebih stabil,” Jelasnya.
Karena itu, politisi dari partai Nasdem tersebut mendorong pemerintah daerah untuk terus memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga efisiensi jalur distribusi barang.
“Jika distribusi pangan bisa dibuat lebih efisien dan pasokan lokal semakin kuat, maka gejolak harga yang dipicu kenaikan biaya transportasi dapat diminimalkan sehingga beban masyarakat tidak semakin berat,” tutup Joha. (ADV)