Kala Fest Hidupkan Nostalgia, Pemkot Samarinda Soroti Pentingnya Budaya Lokal

oleh -
oleh
Suasana kegiatan Kala Fest – Nostalgia Tempo Doeloe di kawasan Citra Niaga/ist

PUBLIKKALTIM.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dengan upaya pelestarian budaya lokal.

Pesan tersebut mengemuka dalam Talk Show City Talk: Culture yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Kala Fest – Nostalgia Tempo Doeloe di kawasan Citra Niaga, Minggu (7/6/2026) malam.

Kegiatan yang digagas oleh Tirtonegoro Foundation ini menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, lembaga kebudayaan, komunitas, hingga akademisi.

Salah satunya Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri yang menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga identitas budaya di tengah arus digitalisasi.

Teknologi dan Budaya Harus Berjalan Seimbang

Dalam paparannya, Saefuddin menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari, namun masyarakat harus tetap mengontrol dampaknya agar tidak menggerus nilai budaya lokal.

Ia menilai penggunaan gadget telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.

“Kalau sekarang sistemnya gadget, boleh main gadget, tapi jangan sampai ditinggalkan budaya kita. Harus berjalan lurus berdampingan,” ujar Saefuddin dalam sesi talk show.

Ia menambahkan bahwa kemajuan digital seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat pelestarian budaya, misalnya melalui dokumentasi digital, promosi seni tradisional, hingga edukasi sejarah daerah kepada masyarakat luas.

Samarinda Sebagai Kota Multikultur

Saefuddin juga menyoroti karakter Samarinda sebagai kota multikultur yang tumbuh dari keberagaman etnis.

Ia menyebut budaya Kutai dan Dayak sebagai budaya asli daerah, yang kemudian berkembang bersama budaya pendatang seperti Banjar, Bugis, Jawa, dan Makassar.

Menurutnya, keberagaman tersebut membentuk identitas khas Samarinda sebagai kota yang inklusif dan harmonis. Ia menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga warisan budaya tersebut agar tetap hidup di tengah modernisasi.

“Tidak ada budaya yang saling bertentangan. Semua harus kita pelihara dan kita jaga bersama,” katanya.

Kala Fest Hidupkan Kembali Tradisi Tempo Dulu

Saefuddin memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Kala Fest – Nostalgia Tempo Doeloe yang digelar di kawasan Citra Niaga.

Ia menilai kegiatan tersebut berhasil menghadirkan kembali suasana budaya masa lalu yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Beragam atraksi budaya ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari sepeda ontel, vespa klasik, musik keroncong, musik tingkilan, hingga kuliner tradisional khas daerah.

Kegiatan itu menarik perhatian masyarakat yang hadir dan ikut merasakan suasana nostalgia tempo dulu.

“Ini yang harus kita lestarikan. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan komunitas yang terus menjaga budaya-budaya yang ada di Samarinda,” ujarnya.

BERITA LAINNYA :  Satpol-PP Samarinda Tertibkan Bangunan di Kawasan Citra Niaga, Langkah Tegas untuk Ketaatan Regulasi

Pendidikan Budaya untuk Generasi Muda

Dalam kesempatan tersebut, Saefuddin menekankan pentingnya pendidikan budaya sejak dini kepada generasi muda.

Ia meminta sekolah-sekolah untuk lebih aktif mengenalkan sejarah lokal melalui kegiatan pembelajaran di kelas maupun kunjungan ke museum dan situs budaya.

Ia menilai banyak anak muda yang belum memahami sejarah kota mereka sendiri, termasuk tokoh pendiri dan perjalanan perkembangan Samarinda dari masa ke masa.

“Kalau tidak dikenalkan, mereka tidak akan tahu sejarah Samarinda. Karena itu kegiatan seperti ini penting untuk mengingatkan kembali dan mengajarkan kepada anak-anak kita tentang budaya dan sejarah daerah,” kata Saefuddin.

Regulasi dan Peran Masyarakat

Saefuddin juga menjelaskan bahwa Pemkot Samarinda telah memiliki regulasi yang menjadi dasar hukum dalam upaya pelestarian budaya daerah.

Ia menegaskan bahwa keberadaan regulasi tersebut harus diikuti dengan aksi nyata di lapangan.

Ia mengajak masyarakat, komunitas seni, dan lembaga pendidikan untuk ikut aktif bergerak menjaga dan mengembangkan budaya lokal.

Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan publik.

“Payung hukumnya sudah ada. Tinggal bagaimana kita bersama-sama bergerak, mengedukasi, dan melestarikan budaya yang kita miliki,” tegasnya.

Balai Kebudayaan Dorong Kolaborasi

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kaltim Titit Lestari menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat dan komunitas.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah berperan dalam perlindungan melalui regulasi, pendokumentasian, serta penetapan warisan budaya.

Namun, pengembangan dan pemanfaatan budaya membutuhkan kolaborasi lebih luas dengan masyarakat, akademisi, dan generasi muda.

“Kebudayaan tidak hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi juga menjadi urusan masyarakat dan komunitas sebagai pemilik budaya itu sendiri,” ujarnya.

Budaya Sebagai Identitas dan Kekuatan Ekonomi

Titit Lestari juga berharap warisan budaya di Samarinda dapat terus dikembangkan menjadi sumber kreativitas dan inspirasi.

Ia menilai budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat jika dikelola dengan baik.

Ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan teknologi digital dalam memperkenalkan budaya lokal ke ruang yang lebih luas tanpa menghilangkan nilai aslinya. (*)

1.008 Tayangan