PUBLIKKALTIM.COM – Penutupan operasional RS Bhakti Nugraha Samarinda meninggalkan duka bagi sebagian masyarakat yang selama puluhan tahun menjadikan rumah sakit tersebut sebagai tempat berobat.
Namun di balik berakhirnya layanan salah satu rumah sakit swasta tertua di kota ini, peluang baru dinilai terbuka bagi tenaga kesehatan (nakes) yang terdampak.
Untuk itu, wakil ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, meminta nakes, dan pegawai yang terdampak dapat segera difasilitasi untuk memperoleh kesempatan kerja di fasilitas kesehatan lain.
Menurutnya, kebutuhan tenaga medis di Samarinda masih cukup tinggi seiring bertambahnya sejumlah rumah sakit baru yang mulai beroperasi.
“Saat ini beberapa rumah sakit baru hadir di Samarinda dan tentunya membutuhkan tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung lainnya. Ini menjadi peluang yang cukup besar bagi para pekerja yang terdampak penutupan rumah sakit,” ungkap Puji sapaan karibnya, Senin (15/6/2026).
Lebih lanjut, Puji menyebutkan dampak ketenagakerjaan akibat penutupan RS Bhakti Nugraha relatif lebih kecil dibanding kasus penutupan rumah sakit lain sebelumnya.
Hal tersebut lantaran kapasitas layanan dan jumlah tempat tidur rumah sakit tersebut tidak terlalu besar.
“Sejauh ini situasinya cukup kondusif. Kemungkinan hak-hak pegawai, termasuk pesangon dan kewajiban lainnya, telah atau sedang diselesaikan oleh pihak manajemen,” Ucapnya.
Dari data yang Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, saat ini masih terdapat 16 rumah sakit pemerintah dan swasta yang beroperasi di Kota Tepian.
Hal itu yang membuat politisi dari partai Demokrat tersebut optimistis layanan kesehatan bagi masyarakat tetap dapat terpenuhi meski RS Bhakti Nugraha telah tutup.
“Jadi nakes harus terus meningkatkan kompetensi dan memenuhi standar profesi yang berlaku agar mampu bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan layanan kesehatan yang semakin berkembang,” tutup Puji. (ADV)