Reses ke Kutim, Henry Pailan Sampaikan Warga Keluhkan Drainase hingga Penerangan Jalan

oleh -
oleh
Henry Pailan dalam reses yang ia lakukan di Kutai Timur belum lama ini.

PUBLIKKALTIM.COM, SAMARINDA -Hasil dari reses di masing-masing daerah pemilihan (dapil) anggota DPRD Kaltim satu persatu mulai disampaikan.

Salah satunya oleh Henry Pailan Tandi Payung.

Sebagai informasi, dalam reses yang ia lakukan, Henry Pailan berkunjung ke Desa Sangatta Selatan, Kutim.

Dari hasil pertemuan dengan warga di sana, persoalan infrastruktur seperti pembangunan dan perbaikan drainase hingga drainase serta air bersih masih menjadi persoalan di Desa Sangata Selatan, Kecamatan Sangata Selatan, Kabupaten Kutai Timur.

Ia mengatakan, banyak drainase yang sudah sejak lama mengalami kerusakan dan bahkan ada yang tidak memiliki aliran air. Kondisi itu membuat saluran air terhambat dan tak tersalur ke sungai.

“Drainase buntu akibat timbunan sampah dan pendangkalan hampir merata disepanjang aliran sungai sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi membuat air meluap hingga badan jalan menjadi menjadi banjir,” katanya belum lama ini.

Demikian pula dengan penerangan, kendati sudah sejak lama dikeluhkan dan disampaikan warga akan tetapi belum juga mendapatkan tindahlanjut dari pemerintah. Seperti belum meratanya listrik di areal pemukiman dan lampu jalanan.

“Pemeliharaan lampu penerangan jalan umum yang menggunakan solar cell atau tenaga matahari kondisinya selain rusak akibat dicuri, sebagian lampu juga cepat sekali rusak. Sehingga perlu dilakukan evaluasi,” tuturnya.

BERITA LAINNYA :  Camat Samarinda Ilir Klaim Miliki Jumlah Kasus Stunting Lebih Sedikit Dibanding Kecamatan Lain

Selain itu, persoalan pendidikan yang sempat menjadi keluhan yakni adanya jual beli buku di sekolah dan dikenakannya biaya kepada siswa/siswi yang mengikuti ujian. Parahnya, mayoritas warga hanya mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan sehingga dinilai sangat membebani orang tua.

Beasiswa Kaltim Tuntas yang diperuntukkan untuk ribuan siswa dan mahasiswa masih belum tersosialisasi hingga pedesaan yang dikenal minim sarana dan prasarana media teknologi dan informatika.

“Kapan mulai dibukanya pendaftaran, terus syaratnya apa saja, dan kuotanya berapa banyak kan belum tau. Bagi mereka yang seharian menghabiskan waktu di ladang dan di kebun tentu sudah pasti cukup kesulitan, kecuali ada sosialisasi dari dinas terkait,” imbuhnya.

Adanya hal-hal itu, disampaikan Henry Pailan telah ia tampung untuk selanjutnya dikonfirmasikan kepada pihak berkaitan. (advertorial)